Nafasku
terengah-engah. Baru saja kubuka pintu itu dan melihat dia terbaring diranjang.
“Kei...kamu baik-baik aja?” tanyaku khawatir.
Keito
tersenyum. “Seperti yang kamu lihat. Kondisi badanku lagi jelek aja Mei. Bentar
lagi juga sembuh.” katanya seolah menghiburku. Aku menghela napas. Lega.
Aku
dan Keito berteman cukup lama. Kami sering bersama. Dia sudah lebih dari sahabat
menurutku. Sampai-sampai kami membuat grup duo dimana aku yang bernyayi dan dia
yang mengiringi lagu dengan gitar kesayangannya. Aku juga tahu sudah sejak lama
badannya lemah, sering jatuh sakit. Tapi aku tak tahu apa sebabnya.
“Makanya jangan kecapekan. Kita kan juga harus latihan buat
pentas nanti” kataku sambil meninju pelan lengan Keito.
“Hehehe...maaf Mei. Tapi, tanpa aku pun penampilanmu nanti tetep
bagus kok”
“Huussh...jangan ngomong kayak gitu ah. Kita harus tampil
bareng. Titik” ujarku pura-pura marah.
***
Hari
itu untuk yang kesekian kalinya aku menjenguk Keito di rumah sakit. Tiap hari
ketika aku datang, dia selalu tersenyum padaku. Seolah berkata dia baik-baik
saja. Dia bersemangat sekali ketika aku datang menjenguknya. Aku senang
sekaligus lega melihat dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Pikiran burukku
setelah mendengar hal yang dibilang perawat tadi sepertinya nggak akan terjadi.
“Temenin jalan-jalan, yuk!” pinta Keito malam itu. Aku
hanya mengangguk.
Kami
berdua duduk di bangku kecil disekitar taman rumah sakit. Malam itu, entah
kenapa aku ingin berada di dekat Keito. Rasanya tak ingin beranjak dari
sisinya.
“Bintangnya bagus ya, Kei” ucapku setelah agak lama
terdiam.
“Un, kira-kira ne~” jawab Keito sambil menerawang ke
langit. “Mei juga seperti bintang itu.”
“Haha...Kei
jago nge-gombal juga yaa.”
Keito
tidak membalas. Dia terdiam sejenak, menarik nafas panjang dan melanjutkan
perkataannya.
“Mei...suatu saat nanti jadilah bintang yang paling terang
diantara semua bintang, walaupun tanpa aku disisimu...”
Aku
terdiam, tak berani memandang Keito. Mataku terasa panas. Aku tahu maksud Keito
yang sebenarnya. “Kei...” ucapku sambil menahan air mata yang hampir keluar.
Aku masih tak mampu memandangnya.
“Aku tahu kamu pasti bisa. Aku akan selalu mendukungmu..”
Keito
terdiam lagi. Air mataku mengalir tanpa ada isak tangis yang terdengar. Aku
memandang Keito yang kini matanya sudah terpejam seolah sedang tertidur lelap
disampingku.
Aku
tak tahan lagi, air mata ini tumpah ruah tanpa sanggup ku hentikan. Aku tahu
kini Keito telah pergi, selamanya. Andai saja aku mengetahui kenyataan yang
sebenarnya lebih cepat. Andai saja Keito nggak berbohong soal penyakitnya.
Andai saja.....
Disela
isak tangisku aku bersyukur akan kebohongan Keito. Aku menyukai kebohongan yang
telah ia lakukan. Dia berkorban manahan sakitnya demi menghiburku setiap hari.
Dia selalu tersenyum walau raganya menahan perih.
Aku
memandang wajahnya yang terlihat bahagia, damai. Kupeluk raganya yang sudah tak
bernyawa. Kubisikkan kata terakhirku untuknya...”Selamat jalan Kei~”
Inspired by YUI's song
#YUI17Melodies's project