Fitoplankton
disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau
melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata
telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2–200 µm (1 µm= 0,001mm).
Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang
berbentuk rantai.
Fitoplankton
ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh
jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan
dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya
seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Sedangkan kelompok
utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang
digunakan untuk bergerak dalam air.
Fitoplankton
berkembang biak atau bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi
aseksual terjadi dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi
individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin.. Tiap-tiap jenis
fitoplankton mempunyai cara reproduksi aseksual yang berbeda-beda.
Perkembangbiakan fitoplankton secara aseksual dapat melalui pembelahan sel,
fragmentasi, maupun pembentukan spora.
a.
Pembelahan sel
Pembelahan
sel terjadi dengan cara sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga
membentuk sel–sel tunggal, pada beberapa generasi sel – sel membelah searah dan
tidak saling terpisah sehingga membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata
rantai sel yang disebut trikom. Tempat – tempat tertentu dari filamen
baru setelah mengalami dormansi (istirahat yang panjang). Saat pembelahan sel
terdapat heterokist yang terbentuk oleh penebalan dinding sel vegetatif.
Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen (terlihat
dengan mikroskop cahaya) dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist dapat
mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa. Selain itu terdapat
akinet yang terbentuk dari penebalan sel vegetatif sehingga menjadi besar dan
penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan penebalan-penebalan
eksternal oleh tambahan zat yang kompleks. Melalui cara ini sel dapat langsung
terpisah atau tetap bergabung membentuk koloni.
Contoh fitoplankton yang bereproduksi
secara aseksual dengan pembelahan sel dari golongan alga antara lain Gleocapsa
dan Chlorella sp.. Pada algae, khususnya Tetraselmis sp. dari
divisi Chlorophyta, reproduksi aseksual dimulai dengan membelahnya protoplasma
sel menjadi dua, empat, delapan dalam bentuk zoospore setelah masing-masing
melengkapi diri dengan flagella. Dalam hal ini protoplasma sel vegetatif mengadakan
pembelahan berulang-ulang sehingga dari satu sel induk dapat terbentuk 2– 16
sel anak.
Gambar Reproduksi aseksual pada
Tetraselmis sp.
Pembelahan
sel pada diatom sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerahan perairan, kadar garam
dan kondisi makanan yang tersedia diperakan tersebut. Diatom sangat cepat
mempergunakan makanan di sekitarnya sehingga mempunyai kemampuan ganda dalam
pembelahan selnya.
Reproduksi
aseksual terjadi dengan pembelahan sitoplasma dalam frustul dimana epiteka
induk akan menghasilkan hipoteka yang baru, sedangkan hipoteka yang lama akan
menjadi epiteka yang menghasilkan hipoteka yang baru pula pada anaknya, dan
seterusnya. Dengan demikian suksesi reproduksi aseksual ini akan menghasilkan
ukuran sel yang semakin kecil (Nontji, 2008). Hal ini akan menyebabkan kedua
sel baru akan sedikit berbeda ukurannya, sel yang terbentuk dari sel dalam akan
lebih kecil dari sel yang terbentuk dari sel luar. Dengan demikian ukuran
individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan
akan berbeda.
Pembelahan
sel secara aseksual ini akan menghasilkan pertumbuhan populasi yang sangat cepat
pada kondisi yang optimal. Namun, dengan pembelahan yang berulang-ulang, akan
terjadi pengecilan ukuran sel. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan
sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil
dapat mencapai 30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya. Suatu ketika
ukurannya mencapai minimum yang selanjutnya akan dikompensasi dengan tumbuhnya
auksospora (auxospore) berukuran besar yang akan membelah dan menghasilkan sel
baru yang kembali berukuran besar.
Selain algae dan diatom, dinoflagellata
juga mengalami perkembangbiakan secara aseksual melalui pembelahan sel
sederhana, di mana dalam proses reproduksi sangat tergantung dari kondisi
lingkungan. Dalam proses reproduksi ini sel membelah membentuk dua sel dengan
ukuran yang sama. Theca bisa ikut membelah, masing-masing sel membentuk theca
sebelahnya, atau, theca lepas sebelum pembelahan sel, dan setiap sel baru
membentuk dinding sel yang betul-betul baru. Pembelahan aseksual dapat
menyebabkan perkembangan populasi yang sangat cepat kalau kondisi lingkungan
menguntungkan alge ini. Dinoflagellata seringkali melimpah setelah blooming
diatom, karena mereka lebih teradaptasi hidup di perairan yang miskin nutrien.
Di dalam sel terdapat kromosom yang
mengandung gen. Ketika sel melakukan pembelahan, kromosom di dalam inti akan
menduplikat yang akan diwariskan kepada sel anak. Sehingga sel anak akan
menerima (mewarisi) kromosom-kromosom dan gen-gen dengan tipe dan ukuran yang
sama dari induknya. Dengan demikian setiap individu mempunyai jumlah kromosom
yang sama dengan induknya dan masing-masing kromosom tersebut merupakan
sumbangan dari kedua induknya.
b. fragmentasi (koloni dan filamen)
Fragmentasi adalah cara memutuskan
bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi
dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru.
Pada filamen yang panjang bila salah satu selnya mati maka sel mati itu membagi
filamen menjadi 2 bagian atau lebih. Masing – masing bagian disebut
hormogonium. Bila hormogonium terlepas dari filament induk maka akan menjadi
individu baru. Fragmentasi juga dapat terjadi dari pemisahan dinding yang
berdekatan pada trikom atau karena sel yang mati yang mngkin menjadi potongan
bikonkaf yang terpisah atau necridia. Susunan hormogonium mungkin meliputi
kerusakan transeluler.
Contoh jenis fitoplankton yang
bereproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi dari golongan alga yaitu
Volvox yang merupakan alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni yang dapat
bergerak, dan Spyrogyra yang merupakan Chlorophyta berbentuk benang.
Gambar
Fragmentasi pada Spyrogyra
Sumber :
http://www.tutorvista.com/topic/fragmentation-in-bacteria-reproduction
c. pembentukan zoospora (sel berflagel dua)
Reproduksi aseksual terjadi dengan
pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat.
Zoospora berbentuk seperti buah pir yang memiliki dua sampai empat bulu cambuk,
vakuola kontraktil, dan satu bintik mata berwarna merah (stigma). Spora yang
sebenarnya merupakan sel vegetatif akan terbentuk pada keadaan yang kurang
menguntungkan bagi fitoplankton. Spora membesar dan tebal karena penimbunan zat
makanan.
Pembentukan spora merupakan
perkembangbiakan dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi
individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin. Pada umumnya terjadi
dengan perantara spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan secara
sporik.
Zoospora dibentuk oleh sel vegetative,
tetapi beberapa tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut sporangin. Zoospora
setelah periode berenang beberapa waktu berhenti pada substrat yang sesuai.
Umumnya dengan ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding,
selama poses ini alga mensekresikan lendir yang berperan untuk mempertahankan
diri.
Perkembangbiakan secara aseksual
terjadi dengan pembentukan zoospora, yang berbentuk buah per dengan 2 – 4 bulu
cambuk tanpa rambut-rambut mengkilap pada ujungnya, mempunyai 2 vakuola
kontraktil, kebanyakan juga suatu bintik mata merah dengan kloroplas di bagian
bawah berbentuk piala / pot.
Gambar
Pembentukan spora pada Algae
Jenis
alga yang melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual dengan cara
pementukan spora antara lain Chlorococcum sp. (alga dari
divisi Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak), Chlamidomonas sp. (alga
dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak), dan Chlamidomonas
sp. (alga dari divisi Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak).
Terdapat pula jenis-jenis fitoplankton
yang bereproduksi tidak hanya dengan fragmentasi maupun pembelahan sel saja
namun dapat juga bereproduksi dengan pembentukan spora. Dari golongan alga,
yaitu Hydrodictyon yaitu alga dari divisi Chlorophyta berbentuk koloni
tidak bergerak yang bereproduksi secara aseksual dengan fragmentasi dan
zoospora.
Selain dengan zoospora,
perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan :
1. Aplanospora, yaitu spora aseksual yang tidak motil
2. Hipnospora, yaitu spora autospora yang mempunyai
dinding tebal
3. Autospora, yaitu spora yang menyerupai sel induk
DAFTAR PUSTAKA
Kaswadji,
Richardus. 2008. Plankton. Bagian Oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi
Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nontji, A.
2008. Plankton Laut. LIPI Press, Jakarta.