29/01/11

Flashback

Dulu, aku pernah buat cerpen waktu esempe kelas 3. Cerpen  yang gag akan pernah ada jika tanpa dukungan dari okaasan tercinta. Aku pun tag pernah terpikir untuk ikut lomba semacam itu karena tingkat ke-pede-an ku saat itu sanggat minim. Kalo inget waktu itu rasanya konyol sekali. Aku merasa saat itu hanyalah kebetulan saja aku bisa mendaftar kalo aja gag ada okaasan. Pasalnya, informasi seperti ini hanya segelintir orang yang tahu. Yang ikut hanyalah orang-orang tertentu yang kusangkangka ditunjuk oleh guru bahasa Indo saat itu. Yah, walopun daftarnya terlambat, toh akhirnya aku ikut juga.

Sempat aku merasa sangat-sangat gag pede dan memilih ingin mundur sebelum mendaftar. Tapi okaasan yang tahu bahwa aku juga suka menulis waktu itu sangat mendukungku untuk terus lanjut, memberiku support walopun saat itu aku masih merasa 'mentah'. Cerpen-cerpen yang kubuat sebelumnya hanyalah karangan fantasi berdasarkan manga dan anime. Entah dimana sekarang buah pikiranku itu....

Temanya kalo gag salah waktu itu adalah persatuan. Nah lo...bingung gag tuh. Cerpen apaan yang bisa dibuat dengan tema persatuan. Kesannya 'formal' banget. Okaasan-lah yang waktu itu memberi ide. Waktu itu kebetulan ada konflik di maluku utara, dan dengan dasar itulah aku mulai menyusun cerita. Aku agak-agak lupa dengan cerita yang kubuat sendiri. Aku hanya ingat bahwa tokoh utamanya bernama dimas yang menjadi relawan dan beberapa scene cerita di barak pengungsian. Karena ke-tidak-pede-an-ku itu pula aku gag mau memperlihatkan apalagi memperbolehkan orang lain membaca draft cerita yang kutulis disebuah buku tulis (dimana yah skg??). Begitu memalukan, pikirku.

Hari H. Berbekal draft lecek (yang cuma sekali tulis n gag dibaca ulang) aku berusaha meng-copy isi kepalaku ke dalam deretan huruf diatas kertas . Hasilnya? walaupun ada bagian yang terpotong karena pembatasan halaman, akhirnya selesai juga. Capeeeee juga nulis berlembar2 kertas folio ~_~"

Yang gag habis pikir, gimana cara aku bisa menang, juara 3. What the hell!? *Avril-addict* Cerita yang awut-awutan gitu bisa menang juga ternyata. Terlebih, temenku yang ku kira jadi juara (karna aku suka karangannya sebelumnya) ternyata gag lolos. Jadilah aku mendapatkan uang 100rb dan piala sebagai imbalannya. Sayang, sang piala harus rela tinggal sekolah bersama piala-piala lain T.T. Duit 100rb waktu itu juga entah kenapa abis begitu saja. Buat apa yah? *mikir* *garuk-garuk*

Yep, salah satu kenangan yang menyenangkan waktu esempe dulu. Tapi entah kenapa sekarang gag bisa seperti itu. Ide selalu putus ditengah jalan dan ujung-ujungnya menyerah. Overall, hontouni arigatou buat Shela Septiana, yang kalo bukan karena karangan fantasinya waktu itu --yang menurutku waktu itu sangat bagus jika dibukukan-- aku gag akan tertarik untuk mulai menulis dan tentunya Okaasan atas dukungannya.... Thanks for all~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar