Ikan gabus merupakan
salah satu jenis ikan air tawar. Ikan ini tergolong ikan
air
tawar non-ekonomis penting. Ikan gabus atau masyarakat lokal
menyebutnya dengan ikan kutuk biasa ditemui di sungai, rawa, danau
dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan gabus dalam
bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common
snakehead,
snakehead
murrel,
chevron
snakehead,
striped
snakehead
dan juga aruan.
Gabus mengandung
protein dan albumin yang tinggi, yaitu 70% protein dan 21% albumun.
Gabus mengandung asam amino yang lengkap serta mikronutrien zink,
selenium, dan iron.
Klasifikasi
ilmiah
Klasifikasi
ikan gabus menurut Kottelat
(1993) adalah sebagai berikut :
Kerajaan :
Animalial
Filum : Chordata
Kelas :
Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Familia : Channidae
Genus : Channa
Spesies : Channa
striata
Morfologi
Ikan gabus merupakan
ikan air tawar yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang
1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai
snakehead),
dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang,
seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor
membulat di ujungnya.
Sisi atas tubuh
(dari kepala hingga ke ekor) berwarna gelap, hitam kecoklatan atau
kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi
samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak
kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut
besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.
Ada dua varietas
ikan gabus yaitu yang cepat tumbuh dan lambat tumbuh. Gabus yang
cepat tumbuh umumnya hidup di sekitar danau, mempunyai warna sisik
punggung abu-abu muda, bagian dada berwarna keperak-perakan. Pada
umur yang sama, panjang total dan lebar badannya lebih besar dari
varietas yang lambat tumbuh.
Ikan gabus merupakan
ikan yang memiliki habitat di rawa – rawa. Ikan ini termasuk ikan
yang kuat dalam pertahanan hidupnya karena mampu hidup di lingkungan
yang berlumpur dan miskin oksigen karena memiliki alat pernafasan
tambahan. Alat pernafasan tambahan pada gabus disebut diverticula,
yang merupakan tulang rawan yang terletak pada daerah pharink. Gabus
juga mempunyai kemampuan dapat berjalan dengan menggunakan sirip
dadanya diatas tanah dan dapat hidup di dalam lumpur. Meski dapat
hidup di rawa, ikan gabus juga menyenangi perairan yang tenang dari
danau, waduk dan sungai. Ikan gabus merupakan ikan yang termasuk
dalam ikan predator, atau ikan pemangsa dan memiliki sifat karnivora,
makanannya yang utama adalah udang air tawar, ikan kecil, kepiting,
katak, dan cacing, serta berbagai serangga yang hidup di perairannya.
Ikan gabus bersifat musiman, memijah pada musim hujan dari Bulan
Oktober hingga Desember.
- Beda jantan dan betina
Jantan dan betina
ikan gabus bisa dibedakan dengan mudah. Caranya dengan melihat
tanda-tanda pada tubuh. Jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna
tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar
cairan putih bening. Betina ditandai dengan kepala membulat, warna
tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar
telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg.
Budidaya
Ikan
gabus memiliki daya tahan yang tinggi untuk tetap hidup di berbagai
lokasi. Bahkan, di kolam air limbah sekalipun, ikan
gabus dapat hidup dengan baik dan produktif karena kaya dengan
makanan (plankton). Daya tahannya yang tinggi untuk tetap hidup dalam
situasi inilah yang menjadi salah satu nilai lebih dan daya tarik
dari ikan gabus. Namun, jika memelihara ikan gabus sesuai dengan
sifat hidupnya, maka hasil budidaya yang diperoleh tentu akan lebih
baik.
Syarat lokasi
budidaya gabus yang pas adalah :
- daratan rendah yang pH airnya netral atau agak alkalis (pH rendah), yaitu antara 7-7,59
- daerah yang letaknya kurang 800 meter dari permukaan laut.
- tempat yang suhu optimum airnya antara 28-31oC.
Penyeleksian benih
perlu dilakukan sebelum memelihara ikan gabus, baik berdasarkan
ukuran maupun kesehatan ikan. Ikan perlu diseleksi dari ukurannya
agar kelak pemanenannya bisa dilakukan secara kompak dan serentak.
Dengan demikian akan mudah memasarkannya.
Selain itu,
penebaran ikan yang berukuran seragam bisa memperkecil resiko
persaingan yang tidak sehat antar ikan. Ikan yang kecil tentu saja
akan kalah bersaing dengan ikan yang besar. Akibatnya, pertumbuhan
ikan yang kecil akan terhambat.
Benih ikan gabus
yang akan ditebar haruslah benih yang sehat. Benih yang terserang
penyakit harus dipisahkan dari benih lainnya yang sehat. Hal ini
bertujuan untuk menghindarkan penularan penyakit yang diderita oleh
salah satu ikan.
- Pemijahan
Untuk memijahkan
ikan ghabus, kita bisa menggunakan kolam biasa. Pemasukan ait tidak
diperlukan sebab ikan gabus justru menghendaki air tenang. Pemasukan
air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang bocor dan menguap.
Di
dalam kolam perlu diberi tumbuh-tunbuhan
air yang mengapung.
Tumbuh-tumbuhan diperlukan ikan gabus untuk menyimpan telur-telurnya.
Setelah kolam siap,
maka dasar kolam dikeringkan terlebih dahulu, dipupuk secukupnya dan
dialiri air hingga mencapai kedalaman 50-75 cm. Di kolam (bisa juga
sawah), sebaiknya ditanami tumbuh-tumbuhan air yang terapung
sebagian, seperti perciliata dan eceng gondok. Air kolam sedapat
mungkin jernih.
Kedalaman
kolam pemijahan antara 70-100 cm. Saat terjadi pemijahan, kolam
hendaknya berair tenang.
Pemijahan
juga dapat
dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. Caranya, siapkan sebuah
bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan
selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir
selama pemijahan; sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok
hingga menutupi sebagian permukaan bak; masukan masukan 30 ekor induk
betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; ambil
telur dengan sekupnet halus; telur siap untuk ditetaskan.
Untuk mengetahui
terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari. Telur
bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor induk betina bisa
menghasilkan telur sebanyak 10.000 – 11.000 butir.
- Penetasan telur
Penetasan telur
dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran
panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari;
isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan
hidupkan selama penetasan; pasang pula pemanas air hingga bersuhu 28
O C; masukan telur dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm2; biarkan
menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Sampai dua hari,
larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan makanan
cadangan.
- Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva
dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15 hari, dalam
akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva
bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi
pakan berupa naupli artemia dengan frekuensi 3 kali sehari. Dari umur
5 hari, larva diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari,
secukupnya. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan
membuang kotoran dan sisa pakan dan mengganti dengan air baru
sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari sekali, tergantung
kualitas air.
- Pendederan
Pendederan I ikan
gabus dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 200
m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya;
buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah
dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air
setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar
4.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg
tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih
dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Pendederan juga
dapat dilakukan di kolam terpal. Pada pendederan di kolam terpal
sebaiknya menggunakan benih yang telah berumur > 20 hari. Pada
umur tersebut benih sudah dapat diadaptasikan dengan pakan buatan
yang berupa tepung pellet.
Benih ditebar dengan
kepadatan 20-30 ekor/liter. Bila benih telah mencapai ukuran 3-5 cm
padat penebarannya antara 1000-1500 ekor/m2.
Untuk mencapai ukuran 8-12 cm, benih ukuran 3-5 cm dipelihara sekitar
1 bulan. Kedalaman air kolam antara 30-40 cm. Selama pemeliharaan
benih diberi pakan berupa kutu air dan cacing sutra sebanyak 3-5 kali
sehari.
Pakan untuk ikan
gabus berupa ikan-ikan kecil maupun ikan rucah. Ikan gabus juga dapat
diberi pakanb uatan berupa pellet. Pakan buatan untuk benih gabus
sebaikny amengandung protein minimal 40% karena benih gabus
membutuhkan protein yang banyak untuk dapat tumbuh. Namun, Ikan gabus
yang diberi pakan pellet secara visual masih mempunyai kekurangan,
yaitu mempunyai kandungan lemak tinggi, terutama di bagian perut,
sehingga tekstur dagingnya tidak seperti ikan gabus yang diberi pakan
ikan rucah.
- Pembesaran
Kegiatan pembesaran
(fattening)
dilakukan untuk menghasilkan gabus ukuran konsumsi atau ukuran pasar.
Untuk menghasilkan gabus ukuran >500 g/ekor, pemelihara
membesarkan benih ukuran 8-12 cm atau berat 10-20 g/ekor. Benih yang
digunakan harus sehat, berukuran seragam, dan responsive terhadap
pemberian pakan. Benih ditebar dengan kepadatan 50-100 ekor/m2.
Kedalaman air untuk pembesaran 80-100 cm.
Selama pemeliharaan
ikan gabus diberi pakan berupa ikan rucah. Ikan gabus juga dapat
diberi pakan berupa pellet yang mengandung protein minimal 30%.
Karena ikan gabus adalah ikan yang rakus dan kanibal, pemberian pakan
harus dilakukan tepat waktu. Bila pakan yang digunakan berupa pellet,
dapat pula diberikan pakan tambahan berupa ikan rucah, cacing, dan
daging bekicot secukupnya
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009.
Budidaya Ikan Gabus. http://budidaya-di.blogspot.com/
2009/11/budidaya-ikan-gabus.html. 6 Oktober 2010.
Anonim. 2010. Teknik
Budidaya Ikan Gabus. http://www.flobamor.com/
forum/hewan-dan-tumbuhan/44941-%5Bebook%5D-teknik-budidaya-ikan-gabus.html.
6 Oktober 2010.
Kordi, M Gufron.
2010. Panduan Lengkap Memlihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Lily
Publisher, Yogyakarta.
Suhaeni, Neni. 2007.
Petunjuk Praktis Memelihara Gabus. Nuansa Komp, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar